Dalam kesempatan ini, masyarakat juga mengingatkan perusahaan-perusahaan yang belum komitmen, khususnya PT APAU dan PT FORTUNA, agar segera memenuhi kewajiban dan tanggung jawab moralnya. Kedua perusahaan tersebut sejak awal telah menyepakati kontribusi 50% biaya pembangunan, namun hingga kini belum terealisasi secara penuh.
“Kami tidak ingin Jembatan Lalan hanya jadi wacana tanpa ujung. Semua pihak harus bertanggung jawab, karena ini bukan hanya soal beton dan baja, tapi soal kehidupan masyarakat dan masa depan ekonomi Lalan,” ujar salah satu aktivis pengawal pembangunan.
Pemerintah dan masyarakat berharap agar seluruh perusahaan yang beroperasi di wilayah Lalan dapat menunjukkan komitmen sosial dan tanggung jawab korporasi (CSR) secara nyata, bukan sekadar janji.
“Ini saatnya bersatu membangun Lalan, bukan saling menunggu. Pembangunan Jembatan Lalan adalah simbol harapan baru, dan tidak boleh lagi tertunda,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dengan adanya pengawasan bersama antara masyarakat, pemerintah, dan aktivis, diharapkan pembangunan Jembatan Lalan dapat segera tuntas dan menjadi bukti nyata kolaborasi untuk kemajuan Musi Banyuasin menuju wilayah yang lebih maju dan berkeadilan infrastruktur.(Megat Alang)








