Menurutnya, KONI selama ini itu tidak ada perhatian terhadap cabor. “Yah, menurut saya seperti itu saja. Terutama cabor yang saya pimpin, sedangkan untuk cabor lain saya kurang memahaminya. Untuk masalah proposal saya memang belum pernah mengajukan proposal, karena sudah bakal pasti zonk (nihil),”jelasnya.
Ia mempertegas, perlunya perubahan dan pergantian ketua. Karena cabor maupun club merasa tidak pernah diperhatikan. “Cabor saja tidak pernah diperhatikan apa lagi club. Oleh karena itu kita harus berubah dan berganti Ketua,”tegasnya.
Kemudian bakal calon lainnya, H Rodi Wijaya menanggapi cabor yang bernaung dalam KONI Kota Lubuklinggau sekarang sekitar 28 cabor, baik yang lama maupun yang baru. Dari seluruh cabor yang aktif sekitar 10 cabor. Tentu dalam pelaksanaan kegiatan, karena anggaran yang ada tidak berlebihan, maka pengurus KONI selektif dalam pemberian bantuan.
“Bukan pilih kasih, tapi optimalisasi dalam pembagian uang pembinaan diberikan setiap tahun ke setiap cabor,”jelas Rodi.
Bahkan Rodi mengungkapkan, terkadang ada oknum pengurus cabor yang “nakal” mengajukan bantuan untuk kegiatan tapi tidak berangkat (fiktip).
Rodi akan memfokuskan untuk cabor unggulan yang banyak dapat medali di PORPROV kemarin.
“Tentu jadi fokus kita dalam pembinaan,”akunya.
Ia merasa bersyukur karena pemerintah Kota Lubuklinggau sangat suport dengan kegiatan olahraga dengan membangun fasilitas yang memadai.
“Target kita di PORPROV 2022 linggau masuk 3 besar di Sumsel, yang ingin bergabung bersama untuk membangun olahraga melalui KONI Kota Lubuklinggau kedepanya kita sambut dengan baik,”pungkasnya.(Ril)








