Satwa Langkah Di Hutan Musi Banyuasin Terancam Punah, Pemerintah Sebaiknya Ambil Langkah Nyata.

Musi Banyuasin1424 Dilihat

Ayam sempidan biru (Lophura ignita) memiliki bulu biru kehitaman yang berkilau dan suara khas yang nyaring. Burung ini menjadi incaran para pemburu untuk dijadikan koleksi. Padahal, keberadaannya sangat penting sebagai indikator kesehatan hutan dan berpotensi menjadi daya tarik wisata alam jika dilestarikan.

Aktivis lingkungan dan masyarakat lokal mendorong pemerintah daerah Musi Banyuasin agar segera mengambil langkah konkret dalam upaya pelestarian satwa liar tersebut. Di antaranya melalui:

– Penetapan kawasan hutan sebagai zona konservasi permanen.

– Peningkatan patroli dan penegakan hukum terhadap perburuan ilegal.

– Edukasi masyarakat desa sekitar hutan tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa.

– Penelitian populasi dan pemetaan habitat satwa prioritas.

– membuat suatu tempat khusus untuk mengenali binatang tersebut dan tempat untuk penangkaran satwa tersebut.

“Jika tidak segera ditangani secara serius, maka bukan tidak mungkin anak cucu kita hanya bisa melihat satwa-satwa ini dalam gambar atau museum. Musi Banyuasin punya potensi luar biasa untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi berbasis wisata alam,seperti taman Hutan Kota,Area belakang rumah dinas Bupati bisa jadi tempat untuk membuat mini zoo sebagai langkah awal untuk memperkenalkan hewan-hewan langkah di Musi Banyuasin.Terwujudnya akan destinasi wisata baru berbentuk mini zoo akan menambah kesan Eksotis Pesona Musi Banyuasin”
ungkap salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Lais.

“Harapannya kita mau ke kebun binatang tidak perlu keluar kota,dan Muba maju lebih cepat benar-benar terwujud di segala sektor tidak cuma sektor ekonomi tetapi juga sektor Pariwisata untuk mendongkrak perekonomian masyarakat Musi Banyuasin melalui bidang pariwisata”Tambahnya.

Keberadaan satwa-satwa ini bukan hanya warisan alam, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan Musi Banyuasin. Pemerintah daerah, bersama lembaga konservasi, swasta, dan masyarakat sipil, perlu bahu-membahu untuk memastikan bahwa rusa, blacan, malu-malu, kijang, napo, beruang madu, dan ayam sempidan biru tetap bisa hidup bebas di hutan-hutan Muba dan ada tempat-tempat khusus untuk melihatnya sehingga generasi muda akan datang tetap mengenali kekayaan akan fauna Hutan Musi Banyuasin.

Karena hutan tanpa satwa adalah hutan yang sekarat. Dan Musi Banyuasin belum terlambat untuk menyelamatkan kekayaan alamnya.

(Megat Alang)