“Hasil tenun rapi, corak yang indah, dan warna yang menarik, apalagi jika menggunakan benang dengan pewarna alami. Kenyataannya tenun yang menggunakan benang toko mungkin lebih umum dilakukan kerana permintaan yang tinggi dari masyarakat maupun biaya yang efisien, tapi tenun dengan corak dan motif dasar dari masing-masing suku serta warna dan benang alami haruslah kita pertahankan,” jelas Maria.
Ia juga menambahkan, Indonesia patut berbangga atas kegiatan menenun yang dikembangkan secara turun temurun dan menonjolkan ciri khas daerah masing-masing. Seperti Sumba Timur yang terkenal dengan motif tengkorak, Maumere dengan motif pohon, hujan, ranting, dan Manggarai terkenal dengan corak bunga, laba-laba dan binatang.
Pada sesi talkshow, Nur Asia Uno menyampaikan bahwa peran bidang promosi dan humas Dekranas adalah membantu pemasaran produk melalui publikasi serta pemberitaan dan pameran online atau offline.
“Targetnya, produk para pengrajin dapat dipromosikan lebih luas melalui platform digital media sosial serta dipasarkan di pameran. Produk dari pengrajin akan dibantu dipasarkan melalui marketplace yang sudah exist seperti Tokopedia dan LaDaRa yang sudah bermitra juga dengan OVO dan Grab, sehingga produk binaan Dekranas bisa berjalan berjualan secara online,” ungkap Nur Asia.
Trince Yuni juga mengungkapkan jika Dekarnas Manggarai Barat turut membantu dan mendorong kemajuan kerajinan daerah baik dari segi pemasaran maupun kualitas produksi, serta melestarikan kearifan lokal yang ada di daerah.
Di kesempatan yang sama, Kuncoro juga menyampaikan bahwa peran Telkom saat ini adalah menumbuhkan sistem kerjasama yang melibatkan masyarakat.
“Di Indonesia 80% rakyat atau 60 juta keluarga hidup tergantung dari UMKM, sehingga UMKM yang kita kembangkan bukan hanya kreasi tapi juga ke ranah pertanian, wisata dan UMKM-UMKM di daerah terpencil,” ungkap Kuncoro.
Ni Luh Putu mengatakan bahwa Bank Indonesia berupaya membantu pengembangan program UMKM dari sisi digitalisasi promosi maupun digitalisasi sistem pembayaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan standarisasi QR Code atau QRIS yang saat ini telah banyak digunakan.
“Ini dilakukan untuk mempermudah dalam transaksi pembayaran secara digital. Sehingga, walaupun UMKM tetap harus bisa go digital supaya bisa memperluas pemasaran, jadi bisa siap ekspor,” jelasnya.
Sementara itu Ericson yang hadir secara online menyampaikan bahwa Telkomsel sangat berkomitmen untuk membantu dan meningkatkan daya saing para UMKM Nasional, khususnya dalam bidang transformasi digital dan kreatif nasional.
“Telkomsel membangun infrastruktur untuk men-support telekomunikasi internet sebagai kebutuhan dasar bagi pelaku UMKM kita, baik secara nasional untuk dapat bertransformasi menuju UMKM dengan spirit UMKN Go Online, Go Digital, dan Go Nasional. Harapan terbaiknya adalah tentu Go Internasional,” jelas Ericson.
Acara dilanjutkan dengan sesi talkshow Wastra Tenun bersama Alfonsa Horeng yang menyebutkan bahwa kain tenun merupakan identitas bangsa Indonesia yang bermuatan edukasi.
Ia sendiri selama 20 tahun telah memperkenalkan kain tenun ke beberapa negara di seluruh dunia.
“Ini adalah budaya tradisi, jadi secara turun temurun semua wanita-wanita di kampung harus menenun karena alasan mahar, atau mas kawin,” ungkapnya.
Acara sendiri ditutup oleh fashion show kain-kain nusantara khususnya Wastra Tenun khas Nusa Tenggara Timuryang diiringi dengan penampilan musik Sasando. (rilis)








