Selain sebagai hiburan rakyat, balap ketek juga menjadi kampanye kreatif melawan praktik illegal fishing. Menurut Endang, lomba ini memberi pesan penting bahwa kelestarian Sungai Musi sangat menentukan keberlangsungan hidup masyarakat nelayan.
“Sebagai daerah lumbung ikan air tawar, Muba harus menjaga Sungai Musi dari praktik penangkapan ikan yang merusak. Balap ketek menjadi media edukasi agar generasi muda peduli pada sungai dan budaya bahari,” tandasnya.
Balap ketek telah menjadi agenda tahunan yang ditunggu masyarakat. Tradisi ini memperkuat semangat gotong royong, sportivitas, dan kebersamaan warga Muba. Lebih dari itu, ajang ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal bisa diangkat menjadi media edukasi lingkungan dan sarana mempererat persatuan.
Turut hadir dalam kegiatan ini Pembina Bajemo Open Drs Syafarudin, Camat Sekayu Edi Haryanto, jajaran Forkopimda, OPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para kepala Desa. (Megat Alang)














