FP3HI Sumsel kini menjadi wadah bersama bagi perempuan penjaga dan pengelola hutan dari berbagai kabupaten, seperti Muara Enim, Lahat, Banyuasin, Musi Banyuasin, Pagaralam, OKU, Empat Lawang, dan Musi Rawas. Forum ini berfungsi sebagai ruang belajar bersama sekaligus memperkuat kepemimpinan serta advokasi kebijakan yang berpihak pada perempuan di tingkat tapak.
Kegiatan tersebut juga menampilkan talkshow bertema “Dari Komitmen ke Aksi: Menguatkan Sinergi Antar-Pihak dalam Perhutanan Sosial Responsif Gender”, serta pitching bisnis kopi dan HHBK oleh lima Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perempuan. Produk inovatif yang diperkenalkan antara lain kopi petik merah premium, parfum kopi, lilin aromaterapi, masker kopi, dan kerajinan bambu — hasil nyata dari kerja keras perempuan penjaga hutan.
Perwakilan FP3HI Sumsel, Ani Tasriah, menyebut forum ini sebagai ruang konsolidasi bagi perempuan penjaga hutan.
“Forum ini bukan sekadar tempat berbagi, tetapi wadah untuk memastikan suara perempuan didengar dalam kebijakan perhutanan sosial. Dari hutan kami belajar, dari kebersamaan kami menguat,” ujarnya.
Kisah inspiratif juga datang dari Pitriwati dari KUPS Beringin Jaya, Desa Tenam Bungkuk.
“Dulu kami hanya membantu suami di kebun. Sekarang kami punya usaha sendiri dari hasil hutan, belajar mengolah kopi dan lilin aromaterapi, dan menjualnya ke pasar yang lebih luas,” katanya.
Sementara Tessa Pranisti, generasi muda Desa Kota Padang, menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menjaga lingkungan.
“Anak muda tidak boleh diam. Kami ikut memantau hutan, menjaga sumber air, dan membuktikan bahwa generasi muda bisa menjadi garda depan pelestarian hutan,” ucapnya.
Kegiatan yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2025 itu juga diisi dengan pelatihan bertema kelembagaan dan usaha perhutanan sosial, monitoring hutan partisipatif, serta advokasi kebijakan dan anggaran. Kegiatan ditutup dengan pemilihan struktur baru FP3HI Sumatera Selatan serta penyusunan rencana kerja 2025–2027 yang berfokus pada penguatan usaha perempuan, perlindungan hutan, dan advokasi kebijakan berkeadilan.
Dre








