2026 Jadi Titik Balik Bisnis Perhotelan Indonesia, Segmen Premium Dorong Pertumbuhan

Bisnis, Palembang2012 Dilihat

Onews-id.com (Palembang) – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi momentum strategis bagi bisnis perhotelan nasional. Industri tidak lagi sekadar mengejar tingkat okupansi, melainkan beralih pada penciptaan nilai bisnis berbasis experience dan premium positioning. Segmen resort, villa, boutique hotel, hingga luxury hotel diprediksi menjadi penggerak utama pertumbuhan pendapatan industri.
Pergeseran ini sejalan dengan perubahan perilaku wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang kini lebih selektif dan value-conscious. Wisatawan cenderung memilih akomodasi yang menawarkan privasi, ruang, desain berkarakter, serta pengalaman personal, sehingga segmen resort dan villa mencatat permintaan yang semakin kuat.
CEO Azana Hospitality, Dicky Sumarsono, menilai tren ini sebagai perubahan struktural dalam peta bisnis perhotelan.
“Pasar perhotelan tidak melemah, tetapi berevolusi. Wisatawan kini mencari pengalaman yang relevan dengan nilai yang mereka bayar. Ini membuka peluang bisnis yang lebih besar bagi hotel dengan konsep premium dan berkarakter,” ujarnya.
Dari sisi revenue, segmen boutique dan luxury hotel juga menunjukkan potensi signifikan. High-spending travelers kini lebih menaruh perhatian pada kualitas layanan, desain, narasi properti, hingga keunikan pengalaman, bukan semata fasilitas standar. Kondisi ini memungkinkan pelaku usaha mendorong Average Daily Rate (ADR) secara lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan volume okupansi.
Sinyal positif juga datang dari sisi daya beli wisatawan. World Travel & Tourism Council (WTTC) mencatat belanja wisatawan internasional ke Indonesia pada 2025 berada di jalur rekor, diperkirakan mencapai Rp344 triliun. Pemulihan ini menjadi katalis penting bagi hotel-hotel premium yang memiliki positioning kuat dan diferensiasi produk jelas.
Secara global, tren pariwisata juga menguat. UN Tourism melaporkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan internasional dunia pada paruh pertama 2025 telah melampaui level pra-pandemi. Arus global yang positif ini menjadi tail wind bagi Indonesia, khususnya destinasi dengan story telling kuat, aksesibilitas baik, dan value proposition yang jelas.
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata turut mendorong arah pengembangan pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) pada periode 2025–2026. Pendekatan ini mendorong terciptanya permintaan yang lebih berkualitas, tersegmentasi, dan memiliki willingness to pay yang lebih tinggi.
Dalam konteks bisnis, Dicky menilai keberhasilan segmen premium pada 2026 ditentukan oleh tiga faktor utama. Pertama, product–market fit premium, mulai dari desain properti, kualitas tidur, privasi, hingga konsep restorative stay. Kedua, experience monetization, yakni kemampuan hotel menciptakan sumber pendapatan di luar kamar melalui curated itinerary, wellness program, distinctive dining experience, hingga sentuhan lokal. Ketiga, distribution mix yang sehat, dengan penguatan direct booking, pemanfaatan OTA secara strategis, serta pemasaran berbasis event sepanjang tahun.
“2026 adalah tahun eksekusi dan positioning. Pelaku usaha yang berani masuk ke ranah premium dan experience-driven hospitality akan berada di depan ketika pertumbuhan industri kembali optimal,” tegasnya.
Dengan strategi yang tepat, tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu periode paling menjanjikan bagi bisnis perhotelan Indonesia, terutama bagi pemain yang mampu mengelola nilai, diferensiasi, dan pengalaman sebagai inti model bisnisnya.
Tentang Azana Hospitality
Azana Hospitality merupakan jaringan hotel nasional yang mengelola lebih dari 90 properti di berbagai destinasi Indonesia. Berfokus pada inovasi dan standar layanan unggulan, Azana terus memperkuat portofolio bisnisnya di segmen premium dan experience-driven hospitality. (haryadi)