RISE Project: Warga di Area Rawan Bencana Air Memiliki Ketangguhan Jangka Pendek

SMSI692 Dilihat

“Sekarang penduduk lumayan padat, ada perpindahan dari kabupaten ke kota. Di Pontianak akhirnya padat dan muncul kawasan-kawasan kumuh,” tutur Rahmawati di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Begitu pula banjir yang terus bertambah titik-titik lokasinya, meskipun berlangsung sekitar 1-2 jam. Ia berharap pemerintah kota Pontianak memiliki program yang sejalan dalam penanganan banjir ke depan.

*Memastikan Rekomendasi Berjalan*
Program Development Manager Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Ilham B Saenong mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang perlu dipenuhi agar rekomendasi riset dapat dijalankan para pemangku kepentingan. Pertama yaitu komitmen semua pihak untuk melanjutkan kolaborasi dari riset atau pengetahuan menjadi praktik yang berguna bagi masyarakat.

“Project ini sudah menghasilkan beberapa model, kalau secara konseptual itu modelnya adalah sosial ekologi. Artinya dengan lensa sosial ekologi, maka pendekatan pembangunan untuk mengatasi kerentanan dari kawasan kumuh perkotaan itu bisa dilakukan tidak hanya dengan membangun infrastruktur tapi juga bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan ekologi warga,” jelas Ilham Saenong di Jakarta Rabu (25 Februari 2025).

Ilham menambahkan masyarakat sipil juga perlu melakukan advokasi bersama di setiap daerah untuk memastikan kebijakan maupun program yang mendukung ketahanan dan kebahagiaan warga. Terakhir yang juga penting yaitu memperkuat kapasitas warga lokal maupun pemerintah lokal. Sebab, tata cara pelaksanaan rekomendasi membutuhkan diskusi dan perencanaan yang lebih baik agar dapat berjalan secara partisipatif.

*Tindak Lanjut Pemerintah*
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah BAPPERIDA Kota Pontianak, Eko Prihandono mengatakan, pihaknya dalam menjalankan program atau kegiatan selalu berbasis data dan riset. Karena itu, hasil riset RISE penting bagi pemerintah kota sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan.

“Ini sangat penting karena hasil riset akan memberikan rekomendasi disertai dasar-dasar kajian eko-prinsip (prinsip ekologis). Sehingga kebijakan yang kami ambil akan lebih tepat, berdaya guna untuk menyejahterakan masyarakat Kota Pontianak,” jelas Eko Prihandono di Jakarta, Rabu (25 Februari 2025).

Selanjutnya, kata Eko, pemerintah kota Pontianak akan mensosialisasikan hasil riset ini ke seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan di Kota Pontianak. Harapannya semua pihak bisa merumuskan agenda bersama dan mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Jakarta, 26 Februari 2026

Narahubung: Ria Yulianti (0812-927-33996)

*Catatan untuk editor:*
RISE Project adalah inisiatif penelitian trans disipliner yang mengkaji ketahanan sosial-ekologis di permukiman kumuh Indonesia. Dengan fokus pada tiga kota studi – Bima, Manado, dan Pontianak – kami mengembangkan pemahaman komprehensif tentang tantangan dan solusi berkelanjutan untuk komunitas urban yang rentan.

Proyek ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana membangun ketangguhan terhadap bencana yang berkaitan dengan air dan meningkatkan kebahagiaan masyarakat di permukiman kumuh di Indonesia. Pengetahuan yang diperoleh dari proyek lintas disiplin ini akan digunakan untuk mengembangkan program pendidikan dan pelatihan bagi para pembuat kebijakan dan pelaku di lapangan.

Sebagai bagian dari upaya ini, kami membangun sebuah model yang melibatkan manusia dan air secara bersamaan. Hasil dari proyek ini akan membantu menyusun strategi perubahan yang bersifat umum dan menyeluruh, yang mencakup: program pembelajaran (baik daring maupun luring), pelatihan bagi para pelatih (training of trainer), lokakarya, serta peta jalan untuk menyusun rencana tata kelola yang inklusif dengan menggabungkan solusi sosial dan teknis.

Kami menggunakan pendekatan studi kasus perbandingan untuk mendapatkan pengetahuan baru dan pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi sosial dan ekologi yang terjadi dalam berbagai permasalahan air, baik secara kualitas maupun kuantitas (seperti banjir, pencemaran air, serta akses terhadap air minum bersih dan sanitasi).

Proyek ini dibiayai oleh Dewan Riset Belanda (NWO) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (RISTEKBRIN) melalui program MERIAN yang berfokus pada perencanaan wilayah dan urbanisasi berkelanjutan. Kami juga menerima dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Universitas Radboud, Universitas Indonesia, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Deltares, dan Open University.

(R/SMSI Pusat)