Program Satu Desa Satu Koperasi banyak Mati Suri

# 50 Persen Koperasi di OKI Mati Suri

ONEWS-ID.C9M (OKI)- Progam Pemerintah Kabupaten OKI yang mencanangkan satu desa satu koperasi belum sepenuhnya berjalan. Kendati pihak Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten OKI mengklaim semua desa sudah dibentuk koperasi, namun sejauh ini banyak di desa tak memiliki koperasi. ”

“Mana koperasi yang katanya sudah dibentuk, tak pernah saya lihat, apa kegiatannya. Justru tidak di desa saya ada sama sekali.”kata Alifiah, warga Desa Sukaraja, Kecamatan Pedamaran.

Menurut Alifiah, kalau memang setiap desa sudah ada koperasi tentunya masyarakat akan mengetahui keberadaan koperasi tersebut.”Sampai saat ini di desa saya tidak ada yang namanya koperasi.”tegas Alifiah, belum lama ini.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten OKI, Herliansyah, S.TTP, mengklaim program satu koperasi satu desa sudah terbentuk. Namun dia beralasan dengan kondisi Pandemi Covid 19 saat ini, membuat sejumlah koperasi terdampak, sehingga ada yang tidak beroperasi.

Lanjut Herli, selain permasalahan Covid 19, yang membuat koperasi tak lagi beroperasi adanya persoalan internal di kepengurusan. Namun demikian, pihaknya terus melakukan pembinaan kepada koperasi- koperasi yang ada. “Terus kami lakukan pembinaan kepada koperasi yang ada.”ujarnya.

Kendati ada beberapa koperasi yang tidak aktif, sambung Herli ada juga koperasi yang aktif. Bahkan pihaknya selalu diundang setiap ada kegiatan rapat anggota tahunan.

Menurut Herliansyah, dari seluruh koperasi yang ada di Kabupaten OKI sekitar 50 persen yang tidak aktif alias mati suri.

Pengamat Koperasi dari Universitas Sumatera Selatan, Agustinus Supriyanto, SE, M.Si, koperasi tidak bisa diarahkan ke politik. Artinya untuk bisa berdiri koperasi di suatu daerah tergantung kepada masyarakat itu sendiri yang memiliki keinginan dan kesadaran akan butuhnya koperasi.”Jadi berdirinya suatu koperasi adanya keinginan atau kesadaran dari masyarakat itu sendiri.”katanya.

Kalau koperasi dibentuk berdasarkan untuk memenuhi program janji dari pemerintah saja. Tidak menjamin koperasi itu akan bisa berjalan dengan baik.

Disisi lain, lanjut Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Sumatera Selatan ini, faktor lain juga yang bisa menyebabkan koperasi itu “gulung tikar” adanya konflik internal di tubuh koperasi itu sendiri menyangkut kepentingan. (INOD/RED)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *