Onews-id.com (Banyuasin)- Program Studi Ilmu Perikanan dan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Selatan (USS) sukses menggelar kegiatan penyuluhan dan pelatihan penerapan teknologi budidaya ikan bagi para pelaku usaha di Kabupaten Banyuasin. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema “Optimalisasi Penerapan Sistem dan Teknologi Zero Waste Aquaculture.”
Kegiatan ini dipimpin oleh Donny Prariska, M.Si dari Prodi Ilmu Perikanan, bersama Adli, M.Sc dari Prodi Ilmu Komunikasi, serta Siti Lestari, M.P sebagai anggota tim pelaksana. Pelaksanaan lapangan turut melibatkan mahasiswa aktif USS, sehingga praktik pembelajaran dapat terlaksana secara langsung dan aplikatif.
Teknologi Minim Limbah untuk Efisiensi Budidaya
Dalam penyuluhannya, Donny menjelaskan bahwa konsep Zero Waste Aquaculture merupakan sistem budidaya ikan yang dirancang untuk meminimalkan limbah dan meningkatkan efisiensi produksi.
“Salah satu contohnya adalah sistem resirkulasi air. Teknologi ini memungkinkan efisiensi penggunaan air dalam proses budidaya, terutama saat musim kemarau seperti sekarang,” jelasnya.
Sistem resirkulasi yang dipadukan dengan filtrasi terpusat mampu mengurangi kebutuhan air baru, menghasilkan air siap pakai untuk kolam, sekaligus menekan biaya produksi bagi pelaku usaha.
Rangkaian Pelatihan: Dari Teori, Pembuatan Sistem, hingga Pendampingan Produksi
Tim pelaksana bersama mitra Koki Talker telah melakukan berbagai kegiatan, mulai dari penyuluhan, pelatihan pembuatan sistem resirkulasi dan filtrasi, hingga pendampingan selama masa produksi.
“Kami berharap teori yang kami kuasai dapat diterapkan langsung bersama para pelaku usaha yang sudah berpengalaman, sehingga mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran yang utuh antara teori dan praktik,” tambah Donny.
Program ini merupakan bagian dari pendanaan hibah nasional Kemendikbud-Ristek, menjadikannya kegiatan berbasis riset terapan yang hasilnya akan dipublikasikan agar dapat diakses oleh masyarakat luas.
Dukungan Pemasaran Digital untuk Mitra Koki Talker
Selain aspek budidaya, tim juga membantu pengembangan pemasaran produk mitra Koki Talker melalui penerapan strategi digital.
Siti menjelaskan bahwa publikasi hasil kegiatan sangat penting agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang aktual mengenai teknologi budidaya.
Sementara itu, Adli menekankan pentingnya penjualan berbasis internet.
“Koki Talker bahkan sudah mampu memproduksi ikan gabus, komoditas yang belum banyak dihasilkan pembudidaya lain. Namun pemasaran online masih minim. Padahal melalui marketplace dan media sosial, pelaku usaha bisa langsung menjangkau konsumen dan memutus rantai tengkulak,” ujarnya.
Adli menutup dengan menegaskan bahwa metode pemasaran digital seperti Facebook, Instagram, dan Tokopedia dapat membantu Koki Talker memperluas pasar sekaligus menentukan harga yang lebih adil.
“Dengan pemasaran daring, Koki Talker dapat tetap produktif bahkan setelah program pengabdian ini selesai,” pungkasnya.
Kolaborasi Dua Prodi USS Dorong Penerapan Teknologi Zero Waste Aquaculture di Banyuasin







