Herman Deru Konsolidasikan Identitas Palembang Lewat KKP

Palembang1032 Dilihat

Onews-id.com (Palembang)-Pengukuhan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) periode 2024–2029 oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru di Griya Agung, Sabtu (13/12/2025), melampaui sekadar agenda seremoni organisasi. Di balik prosesi itu, tersirat upaya konsolidasi identitas kolektif warga Palembang sekaligus penguatan kohesi sosial di tengah lanskap politik dan kultural yang semakin cair.

Herman Deru menempatkan KKP bukan hanya sebagai organisasi kekerabatan, melainkan simpul strategis pemersatu warga Palembang lintas generasi, adat, dan agama. Dalam pandangannya, kekuatan Palembang sebagai entitas sosial justru terletak pada kemampuannya merawat perbedaan tanpa terjebak pada fragmentasi internal.

“KKP ini disatukan oleh akar budaya yang sama. Jangan sampai perbedaan justru melemahkan kebersamaan,” ujar Herman Deru.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal tegas penolakannya terhadap potensi dualisme kepengurusan. Bagi Herman Deru, soliditas KKP bukan semata soal tata kelola organisasi, melainkan menyangkut marwah dan daya tawar sosial warga Palembang—baik di Sumatera Selatan maupun di ruang publik yang lebih luas.

Ia juga mendorong pendataan keanggotaan secara komprehensif, mencakup zuriat biologis, hubungan perkawinan, hingga keterikatan emosional dengan budaya Palembang. Basis data ini dinilai krusial sebagai fondasi penguatan organisasi, baik dari sisi struktur maupun kemandirian finansial.

“Dengan basis data yang kuat, kemandirian bisa dibangun. Iuran kecil pun akan menjadi kekuatan besar jika dikelola kolektif,” katanya.

Dorongan kemandirian tersebut mengisyaratkan harapan agar KKP tidak terus bergantung pada dukungan pemerintah, melainkan tumbuh sebagai organisasi masyarakat yang otonom dan berkelanjutan. Termasuk di dalamnya gagasan memiliki sekretariat permanen sebagai pusat konsolidasi dan simbol eksistensi organisasi.

Ketua Pengurus Pusat KKP Abdul Rozak menyebut kepengurusan kali ini didominasi generasi muda. Regenerasi, menurutnya, menjadi kunci agar KKP tetap relevan di tengah perubahan sosial yang cepat.