Onews-id.com (Palembang)-Ketergantungan petani pada pupuk kimia yang mahal dan pasokannya kerap tersendat mendorong munculnya berbagai inisiatif alternatif. Di Sumatera Selatan, Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumsel mencoba menjawab persoalan tersebut dengan memanfaatkan eceng gondok—gulma perairan yang selama ini dipandang sebagai masalah—menjadi pupuk organik bernilai guna.
Direktur Ditpolairud Polda Sumsel Kombes Pol Sony Mahar Budi Adityawan mengatakan pupuk organik berbahan eceng gondok telah diuji coba pada sejumlah komoditas pangan dan hortikultura berumur pendek, termasuk jagung, sayuran, dan buah-buahan.
“Panen jagung perdana direncanakan akhir Desember atau awal Januari di Ogan Ilir,” ujar Sony, Jumat (12/12/2025).
Langkah ini dinilai relevan di tengah masih rapuhnya tata kelola pupuk nasional. Harga pupuk kimia yang fluktuatif serta distribusi yang tidak merata kerap menempatkan petani pada posisi rentan. Pupuk eceng gondok, menurut Sony, lebih murah dan tidak merusak struktur tanah, sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan pada input kimia.
Namun demikian, inovasi ini sekaligus membuka pertanyaan lebih besar: sejauh mana negara serius mendorong adopsi pupuk organik sebagai bagian dari kebijakan pertanian jangka panjang, bukan sekadar proyek percontohan sektoral.








