Bisa Pulang Berkat Media Sosial

Ogan Komering Ilir1336 Dilihat

Musir mengenang saat itu mereka sempat di tahan selama dua minggu di daratan yang dia tidak tau nama tempatnya, hingga akhirnya di datangi tentara Indonesia dan mereka dipulangkan.

Membawa Ikan ke Pasar 16 Palembang, Namun tak Tau Jalan Pulang
Meski sempat tersesat hingga pertabatasan Australia, nyali pelaut Musir tak pernah surut. Setahun setelah kejadian itu ia kembali mencari kapal nelayan untuk berpetualang.

“Kalau ikut kapal nelayan tidak mau kapal luar negeri. Cari kapal punya orang Indonesia saja biar lebih aman” terangnya.

Kapal tempat dia bekerja saat itu ujarnya cukup besar dengan rute melaut dari Selat Bangka menuju Natuna Kepulauan Riau.
Bekerja di kapal inilah akhirnya membuat Musir menemukan orang tua angkatnya di Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau (saat ini).

“Di Tanjung Balai saya bertemu orang tua angkat dan menetap disana sampai sekarang” terangnya.
Musir mengenang sekitar tahun 1984 kapal nelayan yang dia tumpangi pernah berlayar menyusuri Sungai Musi membawa ikan untuk di jual di pasar 16 Palembang.

“Ingatnya waktu itu lewat bawah jembatan ampera menurunkan ikan di Pasar 16” kenangnya.
Waktu itu ujar dia sempat terbersit untuk minggat dari kapal dan pulang ke kampung.
“Tapi tidak tau jalan pulang, bayangkan pergi tinggalkan dusun umur 14 tahun, apa lagi transportasi tidak semudah ini” ujarnya.

Setelah peristiwa itu Musir mengaku tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke Sumatera Selatan. Puluhan tahun dia menetap di Kepulauan Riau hingga bekeluarga.

Kepada anak cucunya dia selalu bercerita tentang asal-usulnya dan berharap suatu hari dapat mengajak mereka menengok tanah kelahirannya.

Dipertemukan Status Media Sosial
Abus Roni Ali, Kepala Desa Jermun Pampangan adalah orang yang pertama mengetahui keberadaan Musir setelah puluhan tahun menghilang. Melalui komentar di status media sosial Abus mengenali Musir.

“Awalnya bertanya apa benar Kades Jermun Pampangan OKI, saya jawab ia. Kemudian dia menyebut beberapa nama warga yang saya kenal dan mengatakan dia (Musir) adalah warga Jermun yang sekarang menetap di Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau” cerita Abus.

Musir menurut Abus banyak menanyakan tetang keadaan di desa dan mengungkap kerinduannya pada kampung halaman.
Bahkan sebelumnya Musir yang sempat jatuh sakit, lekas sembuh setelah mendengar kabar dari tanah kelahirannya.

Di masa Pandemi Covid-19 ini beberapa kali dia ingin mudik namun terhalang pandemi. Hingga akhirnya dapat pulang dengan mengajak anak dan menantunya.
Baju Setelan yang tidak pernah Terpakai
Sebelum merantau dulu cerita Abus, Musir pernah minta dijahitkan baju stelan. Belum selesai jahitan Musir telah pergi meninggalkan dusun. Oleh keluarganya tutur Abus baju tersebut disimpan rapi, dibungkus plastik, ditaruh dalam lemari.

Saat dia pulang Minggu lalu baju tersebut kembali diperlihatkan oleh keluarganya. Tak selang kakek renta itu tak tahan berurai air matanya.

Di usianya yang senja Musir bersyukur masih di beri kesempatan menginjakkan kakinya ke tanah kelahiran.
Jika pun dia harus pulang dalam arti sebenarnya dia merasa ikhlas karena sudah bisa pulang setelah perjalanan yang panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *