Ditambahkan Misna, belum lagi suara bisingnya aktivitas kendaraan yang lalu lalang setiap harinya. Padahal kendaraan Batubara boleh melintas dimulai pukul 19.00 WIB, akan tetapi kenyataan dilapangan sejak pukul 18.00 WIB kendaraan mengangkut Batubara sudah banyak yang melintas.
“Kemana lagi kami harus mengadu apa lagi kondisi sungai Lematang sudah keruh, itulah kami berharap banyak dengan bapak Bupati Lahat kiranya dapat mendengar jeritan kami ini,” ungkap Misna dengan lantang.
Sementara, Pandriadi selaku Ketua Asosiasi Angkutan Pertambangan Lahat (AAPL) menjelaskan, keberadaan AAPL disini tidak lain merupakan wadah dari aksi Emak-emak yang selama mengeluh sehingga tidak ada sama sekali AAPL sendiri menagmbil keuntungan dari aksi ini.
“AAPL ini sendiri terbentuk dari Perusahaan tambang sehingga wadah inilah dijadikan menyalurkan aspirasi dari Emak-emak bahkan sana kompensasi dari perusahaan langsung masuk ke desa dan tidak mampirke AAPL,” jelas Pandriadi.
Ditegaskannya, awal memang telah disepakati satu perusahaan tambang Batubara Rp 50 Jura rupiah dari 11 Perusahaan tambang, namun yang telah disepakati baru 7 perusahaan yakni PT ERA, BIMA, SCG, BMS, MAS, Bukit Tunjuk dan MIP.
“Sedangkan 4 perusahaan tambang belum sepakat meskipun saat ini sudah yang sedang berdialog, sehingga kami minta tolong panggil perusahaan agar Emak-emak yang datang merasa terbantukan,” pinta Pandriadi.
Wabup Lahat H.Haryanto SE MM menjelaskan, adapun keluhan maupun tuntutan dari emak emak sudah didengar oleh Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Lahat, akan tetapi, tidak bisa langsung memutuskan secara mutlak.
“Insya Allah, besok akan kita panggil perusahaan tambang untuk duduk bicara disini, termasuk besok perwakilan dari AAPL dan emak emak dapat hadir dan mendengarkan apa yang disampaikan perusahaan yang ada,” janji Wabup Lahat.(tim)







