“Dulu nggak pernah kelihatan, sekarang ada beberapa kali TUGANG itu lewat di dekat kebun kami. Bulunya biru, besar, dan suaranya unik,” ujar Herman, warga yang masih tinggal di sekitar kawasan Talang.
Sepinya aktivitas manusia di Talang Kembang Umur membuat kawasan ini menjadi zona yang relatif aman bagi satwa liar. Tak hanya ayam sempidan biru, warga juga menyebut munculnya babi hutan dan jejak beruang yang menunjukkan hutan ini mulai pulih secara alami.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan konservasi lokal berbasis masyarakat. Pelestarian ayam sempidan biru perlu menjadi prioritas, tidak hanya untuk menjaga ekosistem tetapi juga sebagai potensi ekowisata alam yang berkelanjutan di wilayah Musi Banyuasin.
Dengan langkah yang tepat, Talang Kembang Umur dapat menjadi kawasan konservasi unggas hutan yang langka, dan sekaligus menjadi simbol kebangkitan ekologi Sumatera Selatan.Atau setidaknya hewan ini dapat ditangkarkan biar populasinya dapat terjamin dan tidak punah di kemudian hari dan dapat diwariskan keelokan satwa liar untuk generasi mendatang.
(Megat Alang)














