Selain itu, petani kopi di Sumsel juga dinilai masih kurang pelatihan. Menurut Elen, produktivitas kopi di lapangan masih rendah penanganannya. Oleh karena itu, hal ini perlu ditemukan solusi terbaik khususnya oleh Dinas Perkebunan Sumsel.
“Maka penting bagi kita untuk menyiapkan semuanya dalam waktu kurang lebih sebulan ini. Langkah-langkah konkrit dan rencana aksi dapat dilakukan dalam rangka memperbaiki proses bisnis kopi sehingga proses hulu hilirnya dapat dilaksanakan dengan target yang terpadu dan tepat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel Babel, Arifin Susanto, berkomitmen pihak nya mendukung dan mengapresiasi semua pihak yang mendukung pengembangan Kopi Sumatera Selatan melalui Penguatan Akses Keuangan dan Strategi Menuju Pasar Ekspor.
“Oleh karena itu, dalam proses FGD ini kita mengundang berbagai sektor antara lain pengepul kopi dengan omset terbesar, pengusaha-pengusaha yang siap ekspor dan instansi terkait untuk mendukung upaya kita agar siap secara mandiri melakukan ekspor,” Tegasnya.
Dengan persiapan yang matang, Ia optimis Sumsel mampu mengekspor kopi sebelum Desember. Kuncinya adalah perbaikan sistem dan jangan hanya produksi sekali namun harus konsisten.(ADV/Pemprov SS)














