Dalam orasinya, Mendagri menekankan pentingnya peran dunia pendidikan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul demi terwujudnya Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045.
Mendagri mengatakan, dirinya merasa terhormat dan senang dapat berkesempatan menyampaikan orasi yang berangkat dari landasan argumentatif dan berbasis data ilmiah. “Ilmu pengetahuan harus berangkat dari data dan fakta, bukan sekadar opini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mendagri mengungkapkan bahwa banyak anak muda yang belum memahami konsep “Indonesia Emas”. “Sebagian mengira Indonesia Emas hanya sekadar perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Padahal, Indonesia Emas adalah target dan harapan besar bangsa, yang juga menjadi prediksi lembaga-lembaga internasional kredibel seperti IMF dan Bank Dunia,” ujarnya.
Menurutnya, berdasarkan proyeksi ekonomi global, dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan berkelanjutan, Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dominan dunia, berada di peringkat ke-4 atau ke-5 dunia pada 2045. “Artinya, Indonesia akan sejajar dengan negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, Prancis, dan Australia,” jelas Mendagri.
Namun, Mendagri juga mengingatkan bahwa untuk mencapai status negara maju, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia harus melampaui 12.600 dolar AS pertahun atau setara sekitar 16 juta rupiah per orang per bulan. “Saat ini, pendapatan rata-rata kita baru sekitar Rp7 juta rupiah, sehingga kita masih berada di kategori negara berkembang,” paparnya.
Di ujung orasinya Tito jug menekankan agar dalam mendukung Indonesia Emas 2045 Unsri harus melakukan beberapa hal pertama memproduksi SDM unggul, Unsri harus mendidik dan melatih generasi muda dan melaksanakan riset, menjadi agent of change dan memberi masukan berbasis ilmiah kepada pemerintah daerah.








