IPB Membangun Kelembagaan Masyarakat Tani Dalam Program Ketahanan Pangan Nasional

ONews-id.com (Sumsel)- Teknologi dan manajemen perlu dikembangkan pada kelembagaan usaha tani sebagai sarana pembelajaran (knowledge transfer) dan usaha bersama untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam suatu usaha kolektif yang profesional. Usaha tani padi sawah saat ini didominasi oleh petani dengan kepemilikan lahan sempit. Upaya apapun yang dilakukan terhadap petani dengan skala sempit tidak akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan usaha tani tidak memenuhi skala ekonomi minimal.

Kepemilikan lahan sempit juga akan menyulitkan dalam penerapan mekanisasi, rendahnya motivasi petani dalam penggunaan benih unggul bermutu, dan pengelolaan usaha tani menjadi tidak efisien. Selain itu fragmentasi lahan yang sempit tersebut juga menyebabkan penanaman tidak serempak. Hal tersebut berdampak negatif terhadap risiko hama dan penyakit karena selalu ada pertanaman di lapangan dengan berbagai fase pertumbuhan. Ditambah lagi pemerintah mendorong untuk bertanam padi terus-menerus sepanjang tahun dalam rangka memenuhi kebutuhan beras yang terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Hal tersebut juga berkontribusi terhadap risiko hama dan penyakit. Masalah tersebut jika dibiarkan dapat menurunkan kemampuan petani melakukan produksi pertanian,” ujar Amiruddin Saleh kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) IPB-University. Hal ini dapat menjadi hambatan terhadap pencapaian ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu sangatlah penting dilakukan penerapan manajemen kelembagaan pada sistem pertanian. Supaya usaha tani menjadi lebih efisien dan menguntungkan serta menyejahterakan petani. Dengan skala yang lebih luas, maka mekanisasi bisa dilakukan. Hasil panen bisa diolah lebih lanjut menjadi beras. Produk sampingnya berupa menir, bekatul, sekam dan lain-lain bisa diolah dan dijual dengan nilai ekonomi lebih baik. Motivasi untuk adopsi teknologi akan meningkat termasuk penggunaan benih bermutu dari varietas unggul dimana sampai saat ini masih rendah (< 50%).
Usaha tani padi sawah saat ini didominasi oleh petani dengan kepemilikan lahan sempit (< 0.7 ha). Pengembangan model kelembagaan petani sangat relevan, sehingga model kelembagaan yang dihasilkan penelitian IPB diharapkan dapat diimplementasikan di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin di Provinsi Sumatera Selatan.
Selain pengembangan kelembagaan petani diharapkan juga diikuti oleh introduksi teknologi hasil penelitian IPB. Salah satu teknologi IPB yang diharapkan dapat diadopsi oleh masyarakat petani adalah varietas padi unggul tipe baru IPB3S, varietas lainnya yang telah dijadikan varietas unggul nasional. Menurut Dr.Ir. Johan David Wetik (tenaga ahli P2SDM IPB- University) varietas tersebut diharapkan bisa menjadi alternatif varietas padi yang dikembangkan. Di samping itu diintrodusir sistem pemupukan yang terbarukan seperti: pupuk asam hemat substitusi pupuk kandang dan pupuk pelarut cair substitusi pupuk butiran.
Dalam era industri 4.0 saat ini, IPB mendorong pengembangan Kelembagaan petani padi yaitu Komunitas Estate Padi (KEP) dan juga aplikasi agrosistem cerdas dalam sistem produksi hingga pemasaran produk hasil pertaniannya. Sistem cerdas mana yang dikembangkan diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat petani. Dalam implementasinya akan sangat efektif jika teknologi sistem cerdas tersebut ditransfer melalui suatu kelembagaan yang sudah solid (bukan perorangan) karena teknologi sistem cerdas memerlukan wawasan, tingkat pengetahuan dan skill yang lebih tinggi. Kelembagaan petani (KEP) diharapkan mampu menerima, mengaplikasikan dan menyebarluaskan teknologi tersebut kepada para petani Kelompok Lumbung Pangan ”Sukaratu” di Desa Sungai Dua Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin, sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan secara nasional. Ir. Budi Fachrudin, MSi sebagai tuan rumah kegiatan Seminar Nasional yang berjudul ”Membangun Kelembagaan Masyarakat Tani dalam Program Ketahanan Pangan Nasional” mengharapkan keberhasilan implementasi program KEP berbasis sistem pemupukan semi organik, pembenahan tanah, dan varietas padi unggul (IPB3S & produk Kementan) dapat diterapkan di tempat lain. Lebih-lebih untuk pembukaan baru di lahan sub optimal.(DN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *