Onews-id.com(Pagaralam)– Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal dengan sebutan gas melon mulai dikeluhkan masyarakat Kota Pagar Alam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini paling dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang bergantung pada gas bersubsidi tersebut untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Salah seorang ibu rumah tangga, Warianti, mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram di sejumlah warung maupun toko yang biasanya menjual gas tersebut.
“Saya tadi pagi sampai kebingungan mencari gas melon, bahkan harus keluar kampung. Di sekitar rumah saya, hampir semua toko yang biasanya menjual gas katanya stoknya kosong,” ujar Warianti, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, kelangkaan gas elpiji ini sudah terjadi selama beberapa minggu terakhir. Ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena gas elpiji menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat, khususnya untuk memasak.
“Kalau ini terus terjadi, kami mau masak pakai apa? Sekarang kayu bakar sudah sulit dicari di lingkungan tempat tinggal kami. Kompor biasa pun sudah tidak punya, jadi hanya bisa mengandalkan gas melon,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Semi, ibu rumah tangga lainnya. Ia mengaku telah berkeliling kampung hingga ke arah Pasar Besar Kota Pagar Alam untuk mencari gas elpiji 3 kilogram, namun tidak berhasil mendapatkannya.
“Sudah keliling kampung sampai ke pasar, tapi tidak menemukan satu pun yang jual gas elpiji 3 kilogram,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengatasi kelangkaan tersebut agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan.
“Tolong gas elpiji dinormalkan kembali, supaya kami tidak kebingungan saat mau memasak,” ujarnya.
Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram ini juga menjadi perhatian sejumlah kalangan, termasuk insan pers. Arlen, Biro Media Metrosumatera.id, mengaku menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait sulitnya mendapatkan gas bersubsidi tersebut.
Menurut Arlen, setiap kali pasokan gas tiba di tingkat agen atau pangkalan, masyarakat langsung menyerbu untuk membeli sehingga stok cepat habis dalam waktu singkat.
“Sekarang kalau ada gas datang langsung diserbu warga. Banyak yang sudah menunggu berjam-jam untuk antre, berbeda dengan sebelumnya yang relatif lancar,” jelasnya.
Ia menilai kondisi ini membuat masyarakat resah karena gas elpiji 3 kilogram telah menjadi kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari.
Arlen berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun tangan untuk mencari solusi serta melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memastikan distribusi gas berjalan normal.
“Kami berharap dinas terkait di Kota Pagar Alam segera mengambil langkah tegas untuk mengatasi kelangkaan ini, karena sudah sangat meresahkan masyarakat,” pungkasnya.
Gas Elpiji 3 Kg Langka di Pagar Alam, Ibu Rumah Tangga Mengeluh Kesulitan Memasak








